Kata Dokter Kandungan Soal Punya Anak Sebaiknya 2-3 Orang Saja

JawaPos.com – Untuk membangun keluarga yang sehat dan sejahtera, salah satunya bisa dimulai dari perencanaan kehamilan. Pemerintah gencar menggerakkan program Keluarga Berencana (KB) untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk, meningkatkan kesejahteraan, dan mencegah kemiskinan.

Dalam mengukur pertumbuhan penduduk, pemerintah menggunakan angka acuan yaitu Total Angka Fertilitas atau Total Fertility Rate (TFR). Pencapaian tahun 2015-2019, TFR dari 2,6 menjadi 2,28 anak per wanita. Kemudian angka penggunaan kontrasepsi (contraceptive prevalence rate/CPR) naik dari 61,9 persen menjadi 66,0 persen. Kebutuhan kontrasepsi yang tidak terlayani (unmet need) dari 11,4 persen menjadi 9,91 persen.

TFR 2,1 penting untuk mencapai rasio ketergantungan kurang dari 50 persen. Sehingga Indonesia dapat memperoleh bonus demografi pada tahun 2020-2035.

“Angka TFR 2,1-2,2 itu maksudnya jadi seorang perempuan baiknya punya anak 2 saja, atau maksimal 3 anak di usia produktif,” jelas Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Dr. dr. Andon Hestiantoro, SpOG(K) dalam seminar bersama PT SBOBET, baru-baru ini.

Sehingga saat mencapai bonus demografi, Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang cukup banyak. Itulah sebabnya, kata dr. Andon, penting untuk mengendalikan kehamilan.

“Jumlah anak pasangan usia produktif paling baik adalah 2 anak di usia 21 tahun sampai 35 tahun. Tak boleh lagi ada orang kesulitan dapatkan kontrasepsi,” katanya.

Dia menjelaskan bahkan di negara maju banyak masyarakat yang enggan memiliki anak. Sehingga angka TFR hanya 1. Rata-rata di negara maju hanya memiliki anak 1 orang.

“Di negara maju malah angkanya 1. Banyak yang tak mau punya anak. Namun itu pun enggak bagus karena penting menjaga keseimbangan. Antara penduduk produktif dan penduduk kurang produktif,” jelas dr. Andon.

Namun demikian, kata dia, meskipun TFR telah mengalami penurunan dan proyeksi pencapaian angka kelahiran rata-rata di tahun 2020 adalah 2,1 namun perlu diingat tujuan dari pengendalian kelahiran adalah untuk mencapai keseimbangan antara jumlah usia produktif dengan usia lanjut. Oleh karena itu, dukungan semua pihak sangat penting, termasuk dukungan pemerintah tentang kebijakan subsidi alat kontrasepsi dalam program BPJS.

“Di samping itu, kita juga mendukung peran dan partisipasi swasta dalam membantu perempuan meraih kehidupan yang berkualitas dan sejahtera,” jelasnya.