Jangan Percaya Hoax, Carilah Info Kesehatan Sesuai Apa Kata Dokter

JawaPos.com – Berbagai mitos dan fakta seputar kesehatan seringkali membuat bingung masyarakat. Harus percaya artikel yang mana, dengan informasi valid dan sesuai fakta. Atas dasar itulah Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB meluncurkan aplikasi bernama ‘Apa Kata Dokter’.

Aplikasi ‘Apa Kata Dokter’ berbasis android itu berisi informasi terkait kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mempercayai informasi yang tepat bukan mitos atau hoax.

Aplikasi tersebut dapat diunduh di Google Playstore (saat ini baru tersedia untuk OS Android). Dia mengapresiasi masyarakat saat ini yang haus atas informasi seputar kesehatan.

“Saya ingin sampaikan sesuatu tentang kesehatan lewat aplikasi ini. Dan diperluas lagi oleh teman-teman media. Di era saat ini semua orang pakai gadget. Tinggal klik saja sebagian ada yang saya tulis, ada yang wawancara dengan media, atau saya riset,” kata dr. Ari dalam konferensi pers di Gedung FKUI, Salemba, Kamis (6/12).

Pengembangan aplikasi tersebut dilakukan olehnya sebagai bentuk keresahan atas banyaknya hoax kesehatan yang beredar di masyarakat. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, semakin banyak pula informasi yang beredar di masyarakat termasuk di bidang kesehatan.

“Namun sayangnya, terkadang informasi yang beredar tidak berlandaskan atas dasar bukti ilmiah dan tidak bersumber dari tenaga medis atau kesehatan,” tukasnya.

Hal ini mengakibatkan isu hoax kesehatan kerap beredar dengan cepat dan meresahkan masyarakat. Melalui peluncuran aplikasi ‘Apa Kata Dokter’, lanjutnya, diharapkan dapat berperan dalam meminimalisir keresahan dan memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat terkait isu-isu kesehatan. Terdapat beberapa fitur pada aplikasi tersebut yaitu Profile, Artikel, Gallery, Video, Publikasi, Media sosial, dan Kirim Pesan.

Contoh Hoax
Menurut dr. Ari salah satu hoaks kesehatan yang beredar di masyarakat adalah mengenai penyakit kanker usus besar. Disebutkan bahwa kanker usus besar merupakan penyakit yang tidah dapat dicegah dan diobati. Padahal penyakit kanker ini dapat dicegah dan diobati.

Semakin dini ditemukan, maka akan semakin baik prognosisnya. Jika kasus kanker usus besar ini ditemukan pada stadium awal maka harapan hidup 5 tahunnya mencapai 92 persen. Sebaliknya jika kanker usus ini ditemukan pada stadium IV/lanjut maka harapan hidup 5 tahunnya hanya tinggal 12 persen.

“Maka dengan aplikasi ini kami berharap masyarakat akan mendapatkan informasi yang tepat dan benar,” tutup ya.

(ika/JPC)