Usai Digulung Tsunami, Sri Dibawa ke Puskesmas dengan Gerobak Sampah

Jawapos.com – Sri Hartini mungkin selamanya akan terus mengenang kejadian mengerikan yang menimpanya pada tanggal 22 Desember lalu. Hari itu, Sri dan 49 orang rombongan Kemenpora yang lain menjadi korban bencana tsunami.

Sri menuturkan kejadian itu bermula ketika ia dan para pegawai Kemenpora dari Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan Olahraga Nasional (PPITKON) sedang menjalani gathering di kawasan pantai Tanjung Lesung pada 22 Desember lalu. Alih-alih berlangsung dengan penuh suka cita, apa yang terjadi malam itu justru menjadi salah satu kenangan terburuk dalam hidupnya.

“Jadi kan kita lagi makan-makan, jam 9-an. Terus baru ngasih (bertukar. Red) kado. Pas saat penyanyi sedang mentas di panggung, tiba-tiba lampu mati. Kita awalnya tidak ada pikiran apa-apa, jadi duduk saja. Paling nanti lampu hidup lagi,” ucapnya saat ditemui JawaPos.com di Rumah Sakit Olahraga Nasional, Cibubur, Kamis (27/12).

Tsunami Anyer, tsunami Selat Sunda, KemenporaInfografis Tsunami Selat Sunda (Kokoh Praba Wardani/JawaPos.com)

Saat itu, Sri mengaku sempat melihat adanya ombak tinggi. Bahkan dia dan teman-temannya sempat kebingungan saat melihat hal itu. “Kami lagi ada di restoran, ada jaraknya sekitar 100 meter dari laut. Saat itu kami ngeliat ada ombak tinggi banget, apalagi lagi terang bulan. Temen-temen pada bengong ngelihatnya. Kami gak mikir kalau itu tsunami. Tapi saya lihat ombaknya kok cepet, akhirnya pada teriak tsunami. Kami langsung berlarian,” sambungnya.

Sayang, upaya tersebut sia-sia. Gulungan ombak yang begitu besar dan cepat tidak dapat dihindari. Tanpa ampun, air langsung menghajar seluruh para peserta yang berada di sana. “Saya keguling-guling waktu itu. Rasanya kayak naik ayunan. Sempet kepelanting juga. Saya mikirnya pasti terseret ke laut,” jelasnya.

Ternyata, Sang Maha Kuasa berkehendak lain. Sri dan beberapa temannya tidak ikut terseret ke laut. Dengan segenap tenaga yang tersisa, Sri dan teman-temannya berusaha menyelamatkan diri mereka.

Sri dan enam orang kawannya yang lain akhirnya berhasil mencapai jalan raya. Di sana, mereka dibantu oleh beberapa warga lokal yang juga sedang kalut.

Oleh para warga, Sri dan kawan-kawan meminta dibawa ke puskesmas terdekat. Namun, lantaran tenaganya habis, Sri yang sudah tidak kuat berjalan akhirnya rela masuk ke dalam gerobak sampah bersama kawan-kawannya untuk dibawa ke puskesmas.

“Saya sulit berjalan, bagian dada saya sakit. Akhirnya saya berusaha senderan di pohon. Lalu ada penduduk menawarkan batuan menggunakan gerobak sampah untuk dibawa ke puskesmas terdekat. Akhirnya saya dan enam teman-teman yang tidak kuat, tumpuk-tumpukkan dibawa ke puskesmas,” tutupnya.

Editor      : Banu Adikara
Reporter : (mat/JPC)